catatanku

Niat Ikhlas dan Mutaba'ah

NASHEHAT IBU KEPADA ANAKNYA YG MAU MALAM PERTAMA

January 27th, 2012 Posted in Adab, Nikah Tags: , , , , , ,

# Wasiat Seorang Ibu Kpd Putrinya Yg Akan Merasakan Mahligai Malam Pertama #
ust. Firanda MA

Al-’Abaas bin Khoolid As-Sahmi berkata :
“Tatkala ‘Amr bin Hajr mendatangi ‘Auf bin Mahlam As-Syaibaani u/ melamar putrinya yaitu Ummu Iyaas, maka ‘Auf berkata,

“Aku akan menikahkan putriku kpdmu dg syarat aku yg akan memberi nama putra2nya & aku yg akan menikahkan putri2nya kelak”.

Maka ‘Amr bin Hajr berkata, adapun putra2 kami maka kami menamakan mereka dg nama2 kami & nama2 bapak2 kami & nama2 paman2 kami. Adapun putri2 kami maka yg akan menikahi mereka adalah yg setara dg mereka dari kalangan kerajaan, akan tetapi aku akan memberikan kpdnya mahar sebuah bangunan di Kindah, & aku akan memenuhi kebutuhan2 kaumnya, tidak seorangpun dari mereka yg akan ditolak hajatnya”. Maka sang ayah (‘Auf) pun menerima mhara tersebut lalu menikahkan ‘Amr dg putrinya Ummu Iyaas.

Tatkala ‘Amar akan membawa sang putri maka datanglah sang ibu menasehati empat mata kpd sang putri seraya berkata:

أَيْ بُنَيَّةِ، إِنَّكِ فَارَقْتِ بَيْتَكِ الَّذِي مِنْهُ خَرَجْتِ، وَعَشِّكِ الَّذِي فِيْهِ دَرَجْتِ، إِلَى رَجُلٍ لَمْ تَعْرِفِيْهِ، وَقَرِيْنٍ لَمْ تَأْلَفِيْهِ، فَكُوْنِي لَهُ أَمَةً يَكُنْ لَكِ عَبْدًا، وَاحْفَظِي لَهُ خِصَالاً عَشْراً يَكُنْ لَكِ ذُخْرَا

“Wahai putriku, sesungguhnya engkau telah meninggalkan rumahmu -yg disitulah engkau dilahirkan & sarangmu tempat engkau tumbuh- kpd seorang lelaki asing yg engkau tidak mengenalnya & teman (*hidup baru) yg engkau tidak terbiasa dgnya. Maka jadilah engkau seorang budak wanita baginya maka niscaya ia akan menjadi budak lelakimu. Hendaknya engkau memperhatikan & menjaga 10 perkara u/nya maka niscaya akan menjadi modal & simpananmu kelak.

أَمَّا الْأُوْلَى وَالثَّانِيَةُ: فَالْخُشُوْعُ لَهُ بِالْقَنَاعَةِ، وَحُسْنِ السَّمْعِ لَهُ وَالطَّاعَةِ
“Adapun perkara yg pertama & kedua adalah

(1) Tunduk kpdnya dg sifat qonaah, serta

(2) mendengar & taat dg baik kpdnya”

وَأَّمَّا الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِمَوْضِعِ عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ، فَلاَ تَقَعُ عَيْنُهُ مِنْكِ عَلَى قَبِيْحٍ، وَلاَ يَشُمُّ مِنْكِ إِلاَّ أَطْيَبَ رِيْحٍ

“Adapun perkara yg ke-3 & 4 yaitu engkau memperhatikan pandangan & ciumannya, maka

(3) jangan sampai matanya melihat sesuatu yg buruk dari dirimu &

(4) jangan sampai ia mencium darimu kecuali bau yg terharum”

وَأَمَّا الْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِوَقْتِ مَنَامِهِ وَطَعَامِهِ، فَإِنَّ حَرَارَةُ الْجُوْعِ مُلْهِبَةٌ، وَتَنْغِيْصَ النَّوْمِ مُغْضِبَةٌ
“Adapun perkara yg ke-5 & 6 adalah

(5 & 6) memperhatikan waktu tidurnya & makannya, karena panasnya lapar itu membakar & kurangnya tidur menimbulkan kemarahan”

وَأَمَّا السَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ: فَالاِحْتِفَاظُ بِمَالِهِ، وَالْإِرْعَاءُ عَلَى حَشْمِهِ وَعِيَالِهِ، وَمِلاَكُ الْأَمْرِ فِي الْمَالِ حُسْنُ التَّقْدِيْرِ، وَفِي الْعِيَالِ حُسْنُ التَّدْبِيْرِ
“Adapun perkara ke-7 & 8 ;

(7) menjaga hartanya &

(8) perhatian terhadap kerabatnya & anak2nya. & kunci pengurusan harta adalah penempatan harta sesuai ukurannya & kunci perhatian anak2 adalah bagusnya pengaturan”

وَأَمَّا التَّاسِعَةُ وَالْعَاشِرَةُ: فَلاَ تَعْصِنَّ لَهُ أَمْرًا وَلاَ تَفْشِنَّ لَهُ سِرًّا، فَإِنَّكِ إِنْ خَالَفْتِ أَمْرَهُ أَوْغَرْتِ صَدْرَهُ، وَإِنْ أَفْشَيْتِ سِرَّهُ لَمْ تَأْمَنِي غَدْرَهُ

“Adapun perkara yg ke-9 & 10 adalah

(9) janganlah sekali2 engkau membantah perintahnya &

(10) janganlah sekali2 engkau menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya maka engkau akan memanaskan dadanya, & jika engkau menyebarkan rahasianya maka engkau tidak akan aman dari penghkianatannya”

ثمّ إِيّاكِ والْفَرَحَ بينِ يَدَيْهِ إِذا كَان مُهْتَمًّا، وَالْكَآبَةَ بَيْنَ يَدَيْهِ إِذا كَان فَرِحاً.
“Kemudian hati2lah engkau jangan sampai engkau gembira tatkala ia sedang bersedih, & janganlah bersedih tatkala ia sedang bergembira”

Al-’Abaas bin Khoolid As-Sahmi berkata, “Maka kemudian Ummu Iyaas-pun melahirkan bagi ‘Amr bin Hajr anaknya yg bernama Al-Haarits bin ‘Amr, yg ia merupakan kakek dari Umrul Qois penyair & pujangga yg tersohor”

(Dari kitab Al-’Aqd Al-Fariid karya Al-Faqiih Ahmad bin Muhammad bin Abdi Robbihi Al-Andaluusi, tahqiq: DR Mufiid Muhammad, jilid 7 hal 89-90, Daarul Kutub al-’Ilmiyah, cetakan pertama, tahun 1983)

MAKANAN HARAM

January 2nd, 2012 Posted in Fiqih, Makanan Tags: , ,

MAKANAN HARAM

Oleh
Ustadz Abu Ubaidah Al-Atsari

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa makanan mempunyai pengaruh yang dominant bagi diri orang yang memakannya, artinya : makanan yang halal, bersih dan baik akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya, makanan yang haram akan membentuk jiwa yang keji dan hewani. Oleh karena itulah, Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan yang haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah baik, tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dan firmanNya yang lain : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit : “Ya Rabbi ! Ya Rabbi! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram,dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya” [Hadits Riwayat Muslim no. 1015]

Allah juga berfirman.

“Artinya : Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” [Al-A’raf : 157]

Makna “ At-Thoyyibaat” bisa berarti lezat/enak, tidak membahayakan, bersih atau halal. [Lihat Fathul Bari (9/518) oleh Ibnu Hajar]

Sedangkan makan “Al-Khabaaits” bisa berarti sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Sesuatu yang menjijikan seperti barang-barang najis, kotoran atau hewan-hewan sejenis ulat, kumbang, jangkrik, tikus, tokek/cecak, kalajengking, ular dan sebagainya sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i. [Lihat Al-Mughni (13/317) oleh Ibnu Qudamah]. Sesuatu yang membahayakan seperti racun, narkoba dengan aneka jenisnya, rokok dan sebagainya. Adapun makanan haram seperti babi, bangkai dan sebagainya.
Ream more »

Bekal-bekal menuju pernikahan

December 30th, 2011 Posted in Nikah

Bekal-bekal menuju pernikahan

Oleh : Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan

Islam adalah agama yang universal.
Agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
Tidak ada satu persoalan pun dalam kehidupan ini, melainkan telah dijelaskan.
Dan tidak ada satu masalah pun, melainkan telah disentuh oleh nilai Islam,
kendati masalah tersebut nampak ringan dan sepele. Itulah Islam,
agama yang menebar rahmat bagi semesta alam.
Dalam hal pernikahan,
Islam telah berbicara banyak.
Dari sejak mencari kriteria calon pendamping hidup,
hingga bagaimana cara berinteraksi dengannya tatkala resmi menjadi penyejuk hati.
Islam memberikan tuntunan, begitu pula Islam mengarahkan bagaimana panduan
menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan yang suka ria,
namun tetap memperoleh berkah dan tidak menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap ada daya tarik tersendiri.
Maka Islam mengajarkannya.
Namun catatan ini sebatas membahas tentang manfaat menikah, hal-hal yang berkenaan tentang khitbah (meminang), akad nikah, rukun-rukun, dan syarat-syarat serta pembahasan tentang pesta perkawinan atau walimatul ‘ursy.
Semoga kita bisa mengambil manfaat dari pembahasan tersebut.

Ream more »

Suami jatuh Cinta pada Wanita Lain*

December 21st, 2011 Posted in Nikah Tags: , ,

Suami jatuh Cinta pada Wanita Lain*

Assalamu’alaikum. Suami ana mempunyai hubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuan saya. Padahal saya sudah membolehkannya untuk menikah lagi. Baru sekarang saya tahu bahwa suami saya punya hubungan dengan wanita lain. Saya suruh mereka menikah agar tidak ada fitnah lebih jauh. Tapi wanita ini tidak mau menikah dengan suami saya karena dia tidak tahu kalau sudah punya istri. Akhirnya wanita ini menikah dengan orang lain.
Pertanyaan:

  1. Bagaimana mengatasi perasaan saya yang kecewa terhadap suami ana (saya) pada saat dia punya hubungan dengan wanita lain?
  2. Saat si suami saya masih menyimpan perasaan sayang dan cinta terhadap wanita itu. Apakah mempunyai perasaan terhadap wanita lain yang bukan istrinya seperti itu dibolehkan? Syukron

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Insya Allah saudari sebagai istri tidak bersalah kepada suami atas tindakan yang saudarai lakukan, karena punya niat baik untuk membantu suami agar cepat menikah daripada terjadi fitnah. Demikian juga wanita itu tidak salah bila menikah dengan pria lain, karena dia kurang suka bila menikah dengan laki-laki yang sudah punya istri. Dia punya hak pilih untuk menentukan pasangan hidupnya.

Ream more »

Wasiat-Wasiat Generasi Salaf

December 21st, 2011 Posted in Penyucian Jiwa Tags: ,

WASIAT-WASIAT GENERASI SALAF

Oleh
Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari

GENERASI SALAF SEBAGAI GENERASI PILIHAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah : 100]

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pujian kepada para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya dalam mengemban risalah ilahi.

Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik”. Sungguh sebuah ucapan yang pantas di tulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang sangat berguna bagi kita.
Ream more »

#Kalo tidak malu berbuatlah sesukamu#

December 21st, 2011 Posted in Adab

#Cukuplah rasa Malu penahan
Maksiatmu.#

Ternyata pendengaran, penglihatan bahkan fikiran dalam dada, ada tanggungjawabnya dihari Qiyamat

Apalagi ketika kita berbuat maksiat, pastinya akan terlihat jelas dihadapan Allah Ta’ala.

Sehingga suatu hari Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda :

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو اْلأَنْصَارِيِّ الْبَدْرِيِّ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُولَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Anshari al-Badri Radhiallhu Anhu , me-ngatakan: Rasulullah Shalallahu alaihi wasalm bersabda:
“Salah satu perkara yang telah diketahui manusia dari ucapan para nabi terdahulu yaitu:
” Jika kamu tidak malu, maka lakukan apa saja sesukamu.”
(HR. al-Bukhari no. 3483, 3484, 6120)

Dalam hadits shahih Riwayat Imam Ahmad, Rasulullah sholallhualaihiwasalam bersabda:
يَأَيُّهَاالنَّاسُ اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ. وَالاِ سْتِحْيَاءُ مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَمَنْ تَذَكَّرَالْبَلاَ تَرَكَ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا.

”Wahai manusia, malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Karena Malu kepada Allah dengan sebenar- benarnya akan menjaga kepala dari apa yang dipikirkannya, menjaga perut dan apa yang dikandungnya. Barangsiapa yang mengingat petaka (akhirat) niscaya ia meninggalkan perhiasan(haram) kehidupan dunia.”

Mari kita tumbuhkan rasa malu kepada Allah Ta’ala,
karena dengannya kita akan berfikir seribu kali untuk melangkah kejurang maksiat.

Bedakan malu untuk bermaksiat dg malu untuk berbuat Taat, karena malu yg kedua merupakan sifat tercela

Mari hiasi langkah kita dipagi hari ini dg RASA MALU..

Semoga ia menjadi manfaat dihari Hisab.

(Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid).

Bid’ah-bid’ah seputar membaca al Qur’an.

December 14th, 2011 Posted in Al Qur'an Tags: , , ,

Bid’ah-bid’ah seputar al Qur’an.

1. Menyewa orang untuk membaca al Qur’an di kuburan.

Syaikh ibnu ‘Utsaimin ditanya tentang Menyewa orang untuk membaca al Qur’an untuk dihadiahkan kepada ruh mayat.

Jawab:
Ini termasuk bid’ah, dan tidak berpahala baik untuk pembaca maupun untuk mayit. Karena pembaca mengharapkan dunia (upah) saja, dan setiap amal shalih yang bertujuan untuk meraih dunia, maka tidak mendekatkan kepada Allah dan tidak diberikan pahala, maka perbuatan ini hanyalah menyia-nyiakan harta ahli warits, dan hendaknya dijauhi karena ia adalah bid’ah yang munkar. (Majmu’ fatawa wa rasa-il syaikh Muhamad bin Shalih al ‘Utsaimin 2/304).

Ream more »

Faedah Menikah di Usia Muda

December 5th, 2011 Posted in Nikah

#Faedah Menikah di Usia Muda#

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam dan satu-satunya layak untuk disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Menunda-nunda menikah bisa merugi. Berikut penjelasan yang bagus dari ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan -hafizhohullah-  yang kami kutip dari Web Sahab.net (arabic).

Ream more »

Hawa Nafsu dan Syahwat

December 1st, 2011 Posted in Penyucian Jiwa

Hawa Nafsu dan Syahwat

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى.

Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah syahwat yang menyesatkan pada perut dan kemaluan serta hawa nafsu yang menyimpangkan dari jalan yang lurus.[1]

Hawa nafsu dan syahwat adalah penyakit yang amat berbahaya yang menghinggapi hati seorang muslim, di dalam Alquran Allah Ta’ala telah mencela hawa nafsu dan pelakunya dan menyebutkan bahaya-bahaya yang ditimbulkan olehnya, yaitu:

  • Pengikut hawa nafsu diserupakan dengan salah satu dari sifat anjing

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya bagaikan anjing yang menjulurkan lidahnya, Allah Ta’ala berfirman,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيْ ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ {175} وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلُ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ {176}

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami ajarakan kepadanya ayat-ayat Kami, lalu ia lepas darinya maka setan mengikutinya dan jadilah ia orang-orang yang sesat. Kalau Kami kehendaki, Kami akan mengangkat derajatnya dengan (ayat-ayat itu), akan tetapi ia condong kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya juga..” (QS. Al-A’raf: 175-176).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan orang yang diajarkan ilmu dan Al-Kitab namun ia tidak mau mengamalkannya dan mengikuti hawa nafsunya seperti anjing yang termasuk hewan yang paling dungu dan sangat rakus. Semangatnya hanya berkutat pada perut (dan kemaluannya), di antara bukti kerakusannya adalah ia senantiasa berjalan dengan moncong hidungnya ke tanah. Ia selalu mencium duburnya tanpa bagian tubuhnya yang lain, bangkai lebih ia sukai dari daging yang segar, tinja lebih ia gemari dari makanan yang enak, jika ia menemukan bangkai yang mencukupi seratus anjing ia tidak akan memberikan peluang anjing lain untuk makan bersamanya saking rakus dan bakhilnya.

Penyerupaan orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia dari kehidupan akhirat padahal ia mempunyai ilmu yang banyak  seperti anjing yang menjulurkan lidahnya mempunyai rahasia yang indah yaitu bahwa orang yang lepas dari ayat-ayat Allah ini dan lebih mengikuti hawa nafsunya semua itu disebabkan keserakahannya terhadap dunia dan hatinya pun terputus dari Allah dan kampung akhirat karena keserakahannya itu..”.[2]

Ream more »

KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA #7

November 29th, 2011 Posted in Kaidah ASWAJA

Kaidah ketujuh:

Mengagungkan seluruh perkara agama dan mendakwahkan apa yang didakwahkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai kemampuan yang dimiliki.

Kaidah ini menjelaskan bahwa saat kita menomorsatukan tauhid dan memprioritaskan dakwah tauhid, bukan berarti kita meremehkan perkara agama yang lain. Bukan berarti kita memandang sebelah mata perintah-perintah ALLAH yang lain dan meremehkan kemaksiatan dan berbagai kesalahan. Melainkan karena kita menomorsatukan pembagunan pondasi yang kokoh (baca: tauhid) sebelum hal penting lainnya. Karena kita mengobati penyakit yang paling mematikan (baca: syirik) sebelum penyakit dan luka lain yang menggrogoti iman seorang hamba.

Ream more »